Terhubung dengan kami

Eksklusif

Sebelum Kenal Cengkeh, Warga Leppangeng Suka Pindah-pindah

Diterbitkan

Tanggal

AJATAPPARENG.ONLINE, — Desa Leppangeng, khususnya Dusun Pasangridi, Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase adalah salah satu desa terjauh dan terpencil di Sidrap.

Seperti apakah aktivitas warga di Dusun paling timur Sidrap itu?, berikut beberapa catatan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pitu Riase, Jimmy Harus yang telah berkunjung ke dusun tersebut.

Menurut Jimmy Harun, ia sendiri menyaksikan aktivitas warga dilereng pegunungan yang sudah di sulap jadi kebun tampak warga sedang melakukan aktifitas perkebunan. Ada yang sedang memetik Cengkeh, ada juga yang sementara menanam.

Beberapa jam sebelum hujan deras turun, warga terlihat sibuk menjemur Cengkeh hasil kebun mereka. Cengkeh dijemur diatas terpal. Saat dijemur biasanya kaum perempuan yang ada dalam rumah yang bertugas menjaga jemuran. Tugas mereka meratakan buah Cengkeh yang di tebar di atas terpal itu dan Siaga saat hujan turun.

Sementara laki-laki berangkat ke kebun. Di kebun kaum pria ini ada yang menanam Cengkeh, melakukan pemupukan dan ada juga yang menanam tanaman sela.

Yah, di Dusun Pasangridi, Desa Leppangeng, hampir seluruh areal perkebunan baik yang ada di sekitar rumah, maupun yang hanya bisa terlihat dari kejauhan memang ditumbuhi tanaman Cengkeh.

“Memang disini penghasilan utama warga adalah bertani Cengkeh. Tidak ada kebun yang tidak ditumbuhi cengkeh,”ungkap salah seorang warga, Abu.

Menurut Abu, tanaman cengkeh inilah yang membuat warga masih tetap bisa bertahan hidup dan menetap di atas areal perkampungan yang berada di puncak gunung ini.” Kalau dipikir, dengan kondisi akses jalan yang sulit. Sulit ada yang bisa bertahan dalam kehidupan yang serba sulit. Namun karena hasil cengkeh yang menggiurkan, masyarakat disini tetap bisa bertahan dan bahkan hidup mapan,” katanya.

Di Leppangeng kata dia, ada petani kebun yang bisa menikmati uang 2 miliar rupiah setiap kali panen.” Kebun cengkeh nya memang luas. Tapi rata-rata petani disini bisa dapat 200-300 juta setiap panen. Artinya satu kali setahun, “katanya.

Namun sebelumnya warga setempat pernah mengalami masa sulit. Sebelum mengenal tanaman cengkeh warga yang bermukim di wilayah perbatasan Luwu ini pernah bercocok tanam berpindah-pindah.” Itu dulu. Saat itu masyarakat disini betul-betul merasakan masa sulit. Yang di tanam itu yang bisa untuk bertahan hidup. Dan mereka berkebun berpindah-pindah. Tapi begitu mengenal cengkeh Alhamdulillah kehidupan warga sudah cukup lumayan. Tanah yang dulunya tidak bernilai sekarang banyak yang mau beli sudah tidak ada yang mau jual, “jelasnya.

Hal sama diakui Sekdes Desa Leppangeng, Siduman. Penghasilan utama masyarakat di Desa itu adalah cengkeh. Namun selain Cengkeh juga ada tanaman sela seperti jagung, lombok dan lainnya.

Selain itu, sebagian besar warga di desa yang dihuni sekitar 340 lebih kepala keluarga (KK) juga dikenal sebagai pembuat gula merah. “Cengkeh kan cuma sekali setahun. Dan sambil berkebun cengkeh, rata-rata warga juga memanfaatkan waktu membuat gula merah. Apalagi tanaman aren banyak tumbuh di sekitar kebun cengkeh, itu yang mereka manfaatkan,” jelasnya. (*)

Klik untuk memberi komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *