Terhubung dengan kami

Fokus

Operator SDN 1 Bilokka Jadi Korban Politik oleh Oknum Plt Kades Corawali

Diterbitkan

Tanggal

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Salah seorang warga Desa Lise, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap, Ashari S.Pd diduga menjadi korban politik oleh oknum Plt Kades Corawali, Budi.

Hal itu dibenarkan oleh korban yang juga merupakan operator SDN 1 Bilokka saat ditemui bersama orang tuanya Hj Naima, Selasa malam (14/5/2019)

Ashari mengaku, selalu dipaksa oleh oknum Plt Kades Corawali untuk memberikan kesaksian bohong di Bawaslu Sidrap untuk menjatuhkan salah satu caleg terkait dugaan politik uang pada pemilu 2019 lalu.

Oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu pernah datang kerumahnya dan meminta mengambil uang sebesar Rp200 ribu lalu kemudian dipoto bersama nomor serinya.

“Saat diminta seperti itu, saya masuk berikan uang pribadi Rp200 ribu di dalam rumah. Kemudian dia memotonya, lalu tak lama kemudian membawa uang Rp200 ribu dan menukarkan uang yang sudah dipoto,” katanya.

Uang tersebut, lanjut Ashari diduga digunakan sebagai barang bukti di Bawaslu Sidrap.

“Saya tidak tahu kalau uang itu akan dijadikan barang bukti. Nanti saya diundang jadi saksi baru saya tahu, makanya saya tidak mau berikan kesaksian palsu,” katanya.

Tak sampai disitu, ketika dia tahu dirinya tak mau berikan kesaksian palsu. Oknum Plt Kades tersebut diduga bolak balik kerumahnya sembari memberikan kata-kata kotor dan mengancam korban.

Hal itu juga dibenarkan oleh ibu korban Hj Naima. Dia mengaku, oknum tersebut pernah datang kerumanya tengah malam teriak-teriak dan meminta anaknya turun dari rumah.

“Dia teriak-teriak dan mengeluarkan kata-kata tidak senono dan mengancam untuk membunuh anak saya, bahkan mengancam mengeluarkan dia di SDN 1 Bilokka,” kata Hj Naima.

Akibat ulah oknum Plt Kades Corawali itu, kini Ashari mengundurkan diri dari sekolah itu karena paksaan dan desakan dari berbagai pihak.

Dalam surat pengunduran diri Ashari bertuliskan mengajukan permohonan pengunduran diri dari tenaga operator SDN Negeri 1 Bilokka, Kecamatan Panca Lautang terhitung sejak tanggal dibuatnya yaitu tanggal 13 Mei 2019.

Dalam isi surat itu juga dituliskan bahwa dirinya mengundurkan diri karena diancam untuk memberikan kesaksian palsu di Bawaslu Sidrap.

Terpisah, Plt Kepala Desa Corawali, Budi mengaku, tidak ada ancaman seperti itu. “Saya tidak pernah memaksa untuk pergi memberikan kesaksian.

Dikatakannya, bahwa saat itu dia hanya tanya korban untuk pergi mempertanggung jawabkan karena ada yang menuduh telah di kasi uang sama salah satu warga bernama Hamkah.

“Saya tanya kamu dapat uang dari mana. Dia bilang dari Hamkah uang dari salah satu caleg. Jadi saya minta untuk jadi saksi, tapi dia tidak mau,” katanya.

Soal dikeluarkannya dari sekolah, kata Plt Kades Corawali, dirinya tidak tahu menahu persoalan itu. (asp/ajp)

Klik untuk memberi komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler