Terhubung dengan kami

Berita Pilihan

Warga Sebut Banjir di Sidrap Terparah 10 Tahun Terakhir

Diterbitkan

Tanggal

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP, — Banjir yang melanda Kabupaten Sidrap terus meluas hingga Kamis (13/6/2019).

Setelah melanda 3 Kecamatan di wilayah timur, yakni Kecamatan Dua Pitue, Pitu Riase dan Pitu Riawa, kini parah kembali melanda Kecamatan Tellu Limpoe, Panca Lautang, Watang Sidenreng, Matirengngae hingga sejumlah titik di Panca Rijang.

Bahkan, sejumlah warga menyebut bencana ini adalah yang terparah sejak 10 tahun terakhir.

Ini diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi sejak beberapa hari. Sungai dan Danau meluap, dan dilaporkan sejumlah tanggul dan saluran irigasi bahkan jebol.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Sidrap menyebut, ketinggian bervariasi antara 30 cm hingga 2 meter.

Selain itu, tercatat sedikitnya 11.179 Kepala Kelurga (KK) terdampak, dan 9 ribu hektare lahan persawahan yang sudah ditanami padi ikut terendam.

“Curah hujan saat ini masih tinggi di wilayah Sidrap. Hal itu mengakibatkan banjir makin meluas hingga ke 30 desa/kelurahan di 7 Kecamatan,” ucap Kepala BPBD Sidrap, H Siara Barang.

Dikatakannya, bahwa intensitas hujan lebat di wilayah ini akan masih terus terjadi hingga dua pekan mendatang.

“Itu berdasarkan hasil koordinasi kita dengan BMKG Makassar yang menyebutkan bahwa intensitas hujan masih sangat tinggi di Sidrap,” ucapnya.

Banjir terparah terjadi di Wette’e, Kecamatan Panca Lautang. Di wilayah ini, Sekira 167 rumah ada 400 kepala keluarga terendam air. Wargapun harus beraktivitas menggunkan perahu.

Informasi dari Camat Panca Lautang, Usman Demma, menyebutkan, ketinggian air terus naik tiap jam, hingga kini terparah mencapai 3 meter. Beruntung rumah warga di Wettee, rata-rata rumah panggung, tinggi tiang rumahnya sekira 2,5 meter hingga 3 meter.

“Ketinggian banjir ada yang mencapai lantai rumah panggung milik warga. Warga Wettee beraktivitas menggunkan perahu. Ratusan hektar sawah dan kebun dilaporkan terendam air,” jelasnya.

Sebelumnya banjir parah juga merendam Kecamatan Pitu Riawa dan mengakibatkan ratusan hektar sawah terancam gagal panen. Bahkan, di Kecamatan Dua Pitue, warga masih terus was-was lantaran debet air Sungai Bila terus naik.

Informasi dihimpun Kamis (13/6/2019), kondisi air di Bendungan Bulu Cenrana juga semakin mengkhawatirkan. Sebab, jika meluap sejumlah wilayah di Dua Pitue lama ikut terimbas banjir.

Terparah 10 Tahun Terakhir
Sejumlah warga menyebut, bahwa bencana banjir tahun ini bahkan terparah sejak 10 tahun terakhir.

Sebab, sejumlah daerah yang tadinya tidak terimbas parah, seperti wilayah Salomallori, Bila, Tanru Tedong, Bola Bulu dan beberapa wilayah lainnya mengalami kerusakan cukup parah.

Bahkan, arus lalu lintas di Dia Pitue sempat terputus total akibat banjir. Begitupun di Wette’e, meski menjadi langganan banjir setiap tahunnya, namun banjir tahun ini masuk kategori parah, karena ketinggian air sudah mencapai 2-3 meter.

“Mudah-mudahan ini ketinggian air sungai tidak naik lagi. Meski curah hujan masih cukup tinggi. Tapi, kita semua harus waspada,” ujar Rusman, warga Tanru Tedong, Kamis sore. (*/spa)

Klik untuk memberi komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler