Terhubung dengan kami

Berita Pilihan

Pangkalan dan Ulah Pengecer “Nakal”, Penyebab Gas Melon Langka dan Mahal

Diterbitkan

Tanggal

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Harga gas LPG subsidi ukuran 3 Kilogram (Kg) dibeli masyarakat jauh diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) bak misteri yang tak terpecahkan.

Hingga sejauh ini Pemerintah Daerah sama sekali tak punya pola ampuh untuk menstabilkan harga LPG 3 Kg tersebut.

Ajatappareng.online, kemudian melakukan investigasi dan menelusuri alur distribusi gas elpiji 3 kg, mulai agen, pangkalan, hingga pengecer.

Dan ternyata, mahalnya harga gas melon di Sidrap, banyak sedikitnya dipengaruhi adanya agen dan pangkalan ‘nakal’.

Penelusuran crew di salah satu pangkalan LPJ 3 Kg di Pangkajene, Rabu (7/82019), ternyata ada upaya pangkalan untuk meraih keuntungan dengan menjual khusus gas ke pengecer, dan selanjutnya pengecer menjual gas subsidi tersebut dengan harga cukup mahal ke warga.

Kuat dugaan, memang ada kongkalikong antara agen, pangkalan dan pengecer karena ingin mengambil untung lebih, sebab bisa dijual kepada warga lebih tinggi dibandingkan harga jual di pangkalan.

“Tabung habis,” begitu kata pangkalan dengan enteng kepada warga. Tetapi, untuk pengecer ‘langganan’, stok tersedia, bahkan diantarkan ke rumah mereka.

Data yang diperoleh, harga elpiji bersubsidi 3 kg di pangkalan hanya berkisar Rp16-17 ribu/tabung, kemudian jatah pangkalan sebagian dijual khusus ke pengecer dengan harga Rp18 ribu. Di tingkat pengecer, harga kemudian didongrak hingga Rp30 ribu.

Bayangkan, dari pangkalan ke pengecer, ada kenaikan
harga hingga 100 persen. Inilah yang membuat warga memilih antri dan mengular di pangkalan ketimbang pembeli di pengecer.

Inipula yang memicu munculnya pengecer-pengecer gas melon dadakan. Sebab, tergoda keuntungan yang menggiurkan.

Kondisi ini diperparah dengan tingkat kebutuhan gas melon oleh kalangan petani untuk bahan bakar pompanisasi sawah.

Alih-alih membeli gas melon di pengecer dengan harga Rp25-30 ribu/tabung, mereka pun memilih ikut antri bersama warga dan pengecer yang menunggu jatah di pangkalan.

Jadi wajar saja, jika gas melon langka. Warga yang menggunakan gas subsidi untuk kebutuhan sehari-hari, harus bersaing dengan petani yang butuh 3-5 tabung untuk pompanisasi sawah. Termasuk berebut jatah dengan pengecer elpiji dadakan.

Kenapa mahal?, karena kondisi ini dimanfaatkan oleh kongkalikong pangkalan dan pengecer nakal, dan pengecer dadakan yang ingin mengambil keuntungan besar. (tim)

Klik untuk memberi komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler