AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP —Kangkareng sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus) memang terbilang berukuran kecil (sekitar 53 cm) dibandingkan rangkong sejenis lainnya.

Karena itu, banyak peneliti luar menyebutnya sulawesi dwarf hornbill. Namun, kehadiran burung rangkong ini cukup istimewa karena merupakan satu dari tiga jenis rangkong endemik Indonesia, tepatnya dari Pulau Sulawesi.

Salah satu daerah yang menjadi lokasi endemik burung ikonik Sulawesi ini, adalah Desa Leppangeng, Kab. Sidrap.

Kepala Desa Leppangeng, Alias, S.Pt

Kepala Desa Leppangeng, Alias, S.Pt mengatakan, Kangkareng atu rangkong Sulawesi ini hidup hutan primer Leppangeng pada ketinggian 700-1.100 meter dpl.

Jenis ini biasanya mencari makanan di tengah tajuk pepohonan yang tengah berbuah. Sebagai pemakan buah, burung ini hidup berkelompok hingga puluhan individu dan hinggap pada pohon sejenis beringin.

“Kami sering menjumpai koloni burung endemik ini di hutan Desa Leppangeng,” ujarnya.

Seperti halnya dengan jenis rangkong yang lain, kangkareng Sulawesi juga merupakan “petani hutan” yang tangguh dalam menebar biji sisa pakan buahnya.

Dengan kemampuan menjelajah hingga rentang 100 kilometer, rangkong memang memiliki jasa lingkungan yang besar dalam meregenerasi hutan.

Kehidupan burung rangkong tak bisa dipisahkan dengan hutan. Keberadaan rangkong mengindikasikan kondisi hutan yang sehat, karena jenis ini membutuhkan tegakan pohon yang kuat sebagai lokasi sarangnya. Pohon-pohon besar ini tentu saja berada di hutan yang sehat.

Banyak literasi menyebut, rangkong lebih dari sekadar burung besar dengan paruh mencolok. Rangkong yang juga biasa disebut Julang Sulawesi adalah simbol penting dari keseimbangan ekosistem dan kisah kesetiaan dalam dunia satwa liar.

Bagi masyarakat Desa Leppangeng, keberadaan Rangkong Sulawesi bukan sekadar burung, tetapi sudah bagian dari keseharian hutan yang mereka kenal. (sp)