Menu

Mode Gelap
Semangat Pengabdian, Begini Pesan Menyentuh Bupati Sidrap Ini 4 Skema Penyaluran MBG Selama Bulan Suci Ramadhan Wamen HAM Mugiyanto Hadiri HUT JMSI ke-6 Perlindungan Pers Diperluas hingga Pengelola Media, Usulan JMSI Disambut Dewan Pers 13 Camat Dilantik, Ketua DPRD Makassar Dukung Penyegaran Pemerintahan Kecamatan

Kabar Utama · 31 Jul 2025 16:55 WITA ·

Dinas LH dan APH tak Tegas, Sidrap Terancam Eksploitasi Pertambangan


 Dinas LH dan APH tak Tegas, Sidrap Terancam Eksploitasi Pertambangan Perbesar

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP – Aktivitas tambang galian C di sejumlah wilayah di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), tetap  berjalan, meski mendapat sorotan tajam dari elemen masyarakat.

Pasalnya, sejumlah bukit dan pegunungan sudah mengalami kerusakan parah dan dikeruk habis oleh aktivitas dan eksploitasi penambangan yang dinilai tidak memperhatikan dampak lingkungan.

Selain itu, aktivitas angkutan truk tambang yang melewati jalan umum memperparah kondisi infrastruktur. Jalan yang sebelumnya dibangun dengan dana pemerintah untuk kepentingan warga kini rusak berat dan tak kunjung diperbaiki.

Aktivis Forum Peduli Masyarakat (FPM) Sidrap, Ahlan, meminta  pihak Terkait dan aparat penegak hukum (APH) segera bertindak tegas terhadap tambang-tambang yang merusak lingkungan, terlebih yang diduga tidak mengantongi izin resmi.

“Kami mendesak agar kegiatan tambang ini dihentikan. Jika ditemukan tak mengantongi izin resmi. Kalau dibiarkan, dampaknya akan semakin parah, tidak hanya kerusakan alam tapi juga mengancam keselamatan masyarakat,” tegas Ahlan.

Hal senada juga disampaikan oleh warga lainnya, yang mengeluhkan kondisi jalan yang rusak akibat truk pengangkut material tambang. “Sudah rusak parah, tapi tidak ada perhatian atau perbaikan dari pihak yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Penambangan tanpa izin jelas melanggar hukum. Dalam Pasal 158 Undang-Undang No. 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, pelaku penambangan tanpa Izin Usaha Pertambangan (IUP) dapat dikenakan sanksi pidana maksimal 5 tahun penjara dan denda hingga Rp100 miliar.

Selain sanksi pidana, pelaku juga dapat dikenakan sanksi administratif seperti pencabutan izin, penghentian kegiatan, dan denda. Sanksi tambahan pun mewajibkan pelaku untuk melakukan reklamasi terhadap lahan bekas tambang.

Dampak lain dari penambangan liar ini adalah bencana banjir dan kerusakan alam yang merugikan warga di sekitar lokasi tambang.

Dari pantauan media ini pada Rabu, 30 Juli 2025, aktivitas tambang masih berlangsung di sejumlah titik di Watang Pulu, Panca Lautang, dan Dua Pitue serta Pitu Riase.

Masyarakat berharap pemerintah daerah dan APH segera mengambil tindakan tegas demi menyelamatkan lingkungan serta menjaga infrastruktur dan keselamatan warga Sidrap dari kerusakan lebih lanjut. (sp)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mahasiswa Ilmu Perikanan UMS Rappang Ikuti Magang Industri di Perusahaan Perikanan Barru

9 Februari 2026 - 18:47 WITA

LP3M UMS Rappang Berdayakan Nasyiatul Aisyiyah, Sulap Ampas Kelapa Jadi Produk Bernilai Ekonomi

9 Februari 2026 - 18:38 WITA

Semangat Pengabdian, Begini Pesan Menyentuh Bupati Sidrap

9 Februari 2026 - 16:18 WITA

Ini 4 Skema Penyaluran MBG Selama Bulan Suci Ramadhan

9 Februari 2026 - 15:20 WITA

Kolaborasi Kuliner dan Kesehatan, Prodi Seni Kuliner UMS Rappang Berbagi Olahan Pasta dan Garnish

9 Februari 2026 - 07:07 WITA

Prodi Seni Kuliner Gandeng PT Wahana Interfood Nusantara, Perkuat Peran Praktisi Bakery

9 Februari 2026 - 06:56 WITA

Trending di Eksklusif

Sorry. No data so far.