Kemarau (Mungkin) Panjang, BPBD dan Dinkes Sidrap Siapkan Mitigasi
SIDRAP, — Pemerintah kabupaten (Pemkab) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai daerah, saat ini dituntut menyiapkan langkah mitigasi lintas sektoral untuk menghadapi prediksi musim kemarau yang lebih kering dan panjang akibat fenomena El Nino.
Dinas terkait, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidrap, telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menghadapi kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.
Kepala Pelaksana BPBD Sidrap, Patriadi melalui Staf BPBD Sidrap, Ardi Anugrah Said, Jumat (28/8) mengakui, jika kondisi kekeringan memang berpotensi memberikan dampak terhadap lahan pertanian, sekaligus memicu krisis air bersih di berbagai daerah.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Sidrap melakukan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya dengan menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan maupun potensi bencana lainnya.
Selain persoalan kekeringan, BPBD juga mewaspadai meningkatnya ancaman kebakaran. Risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dapat meningkat tajam selama kondisi cuaca kering, termasuk potensi kebakaran yang terjadi di kawasan permukiman.
“Karena itu, peningkatan kesiapsiagaan terus dilakukan, termasuk melalui penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla. BPBD Sidrap mengimbau masyarakat untuk lebih waspada, menghemat penggunaan air, serta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di tengah kondisi cuaca yang kering,” ujarnya.
Langkah mitigasi dan kesiapsiagaan ini diharapkan dapat meminimalkan dampak kekeringan serta mencegah meluasnya potensi kebakaran di wilayah Kabupaten Sidrap.
Resiko Gangguan Kesehatan
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sidrap, DR Ishak Kenre, Jumat (28/80 mengatakan, untuk menghadapi ancaman El Nino, Dinas Kesehatan juga tengah memperkuat langkah mitigasi untuk mencegah meningkatnya risiko gangguan kesehatan di masyarakat.

Fenomena El Nino dapat menyebabkan musim kering berkepanjangan dan berpotensi memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari dehidrasi, penyakit akibat cuaca panas, diare, ISPA, penyakit berbasis vektor, hingga gangguan gizi.
“Sejumlah langkah antisipasi sudah dilakukan, diantaranya memperkuat sistem kewaspadaan dini dan pemantauan kondisi cuaca serta wilayah yang rawan kekeringan,” katanya.
Dinas Kesehatan juga perlu memastikan Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi kemungkinan peningkatan kasus, termasuk dengan menyiapkan obat-obatan, cairan infus, oralit, alat kesehatan, serta logistik kesehatan.
Selain itu, Dinkes juga terus menedukasi masyarakat untuk menggunakan air bersih secara aman dan hemat, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta meningkatkan konsumsi air putih saat cuaca panas.
“Perhatian khusus kami diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan penyakit kronis,” tambahnya.
Menurutnya, pengendalian penyakit menular turut diperkuat melalui pencegahan diare, ISPA akibat debu dan asap, serta pemberantasan sarang nyamuk untuk mencegah penyakit seperti DBD.
Di sisi lain, ketahanan gizi masyarakat juga harus dijaga melalui pemantauan status gizi, terutama pada balita dan kelompok rentan, serta deteksi dini apabila terjadi masalah gizi.
Inshak mengatakan, koordinasi lintas sektor juga menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak El Nino, dengan melibatkan BPBD, Dinas Sosial, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan dan desa, serta sektor terkait.
Terakhir, kata dia, edukasi dan komunikasi risiko harus terus dilakukan melalui puskesmas, kader kesehatan, maupun media informasi agar masyarakat mengetahui tanda-tanda bahaya kesehatan akibat El Nino dan segera mendapatkan pelayanan apabila mengalami keluhan.
“Yah kita berharap, dengan langkah mitigasi yang terencana dan keterlibatan seluruh pihak, dampak El Nino, khususnya terhadap kesehatan masyarakat diharapkan dapat ditekan,” pungkasnya. (asp-sp)



Tinggalkan Balasan