AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP, — Kasus meninggalnya narapidana Rutan Kelas II B Sidrap, Muhammad Taufik (29) memantik perhatian politisi Partai NasDem, Andi Tenri Sangka, SE. Anggota Komisi I DPRD Sidrap itu, mengunjungi Rutan Kelas II B Sidrap, Rabu (25/3/2026).
Andi Tenri Sangka, melakukan peninjauan ke Rutan Sidrap, untuk memastikan sistem keamanan rutan.
“Kita ingin pastikan, apakah sistem keamanan di Rutan berjalan optimal sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga korban dan warga binaan lainnya,” ujar A Tenri Sangka.
Ia menegaskan, langkah ini diambil sebagai respons atas kekhawatiran publik terhadap kondisi di dalam rutan, agar situasi tetap aman dan tidak memicu keresahan di kalangan warga binaan.
“Selain memastikan sistem pengawasan berjalan dengan baik, kami juga ingin memberikan penguatan moral, baik kepada keluarga korban maupun warga binaan di dalam. Ini penting agar situasi tetap kondusif,” ujar politisi yang dikenal dengan Koboy Dari Timur ini.
Andi Tenri Sangka diterima Kepala Rutan Perimansyah, S.Sos, bersama Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka. KPR) Andi Wildam, S.T. Ia berkoordinasi untuk melihat secara langsung mekanisme pengawasan, mulai dari sistem penjagaan, kontrol aktivitas warga binaan, hingga prosedur penanganan keadaan darurat.
Ia menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan guna mencegah kejadian serupa terulang.
“Kita ingin memastikan bahwa pengawasan benar-benar berjalan maksimal. Tidak boleh ada celah yang bisa membahayakan keselamatan warga binaan,” tegasnya.
Menurutnya, efektivitas pengamanan tidak hanya bergantung pada fasilitas, tetapi juga pada kedisiplinan petugas dalam menjalankan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Dukungan untuk Keluarga Korban
Selain melakukan peninjauan, Andi Tenri Sangka juga menyampaikan empati dan dukungan moral kepada keluarga Muh Taufik. Ia menilai kehadiran pemerintah daerah, termasuk DPRD, penting agar keluarga korban tidak merasa sendiri menghadapi situasi tersebut.
“Kami turut berduka atas kejadian ini. Kami berharap keluarga diberi ketabahan, dan seluruh proses yang berjalan dapat memberikan kejelasan yang adil,” ucapnya.
Perhatian juga diberikan kepada warga binaan lainnya. Menurut Andi Tenri Sangka, peristiwa kematian di dalam rutan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis para penghuni.
Karena itu, ia mendorong pihak rutan untuk mengedepankan pendekatan humanis dalam proses pembinaan, termasuk memberikan pendampingan serta memastikan tidak ada tekanan berlebihan di dalam lingkungan tahanan.
“Warga binaan juga manusia yang harus dijaga kondisi mentalnya. Jangan sampai muncul rasa takut atau trauma akibat peristiwa ini,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya komunikasi terbuka antara pihak rutan, keluarga, dan masyarakat guna menghindari kesimpangsiuran informasi.
“Kita semua berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar sistem yang ada bisa terus diperbaiki ke arah yang lebih baik,” tutupnya. (*)















