Menu

Mode Gelap
Legislator Papua Barat Belajar Budidaya Porang di Sidrap Aturan Baru Netralitas ASN Permudah Bawaslu Lakukan Pengawasan Planet Surf Buka Store ke 66 di Sidrap, Tawarkan In House Brand Syaharuddin Alrif: Poros Sidrap-Soppeng akan Tuntas 2022, Total Anggaran Rp45,5 Miliar DPRD Sidrap Bantah Isu Barter Hak Interpelasi dengan Proyek

Ajatappareng · 30 Apr 2021 16:58 WITA ·

Disdalduk-KB Enrekang Gencar Edukasi Remaja, Cegah Lahirnya Anak Stunting


 Disdalduk-KB Enrekang Gencar Edukasi Remaja, Cegah Lahirnya Anak Stunting Perbesar

AJATAPPARENG.ONLINE, ENREKANG — Pernikahan pada usia dini, namun tidak dibarengi edukasi kehidupan berkeluarga dapat menyebabkan anak menderita stunting. Hal ini disebabkan orangtuanya tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai kehamilan dan pola asuh yang benar.

Hal ini salahsatu pembahasan pada pendampingan pelaksanaan edukasi penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR).

Acara itu digelar oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdalduk-KB) Enrekang di pusat informasi konseling remaja (PIK R) dan Bina Keluarga Remaja (BKR).

Sekretaris Disdalduk-KB Kab.Enrekang Husniati Latif, SH.,M.A.P menjelaskan bahwa acara ini merupakan program BKKBN Bangga Kencana. Sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap remaja.

“Remaja diharapkan dapat menjadi remaja yang berketahanan, remaja yang berkualitas, remaja dapat menunjukkan identitas diri, remaja yang produktif, dan pro aktif,” jelasnya.

Sementara Dra. Hj. Ritamariani selaku Kepala Perwakilan BKKBN Prov. Sulsel dalam sambutannya menyebutkan upaya pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, yaitu dimulai saat remaja.

Kasus stunting, kata Rita, banyak terjadi pada remaja yang menikah diusia dini. Hal ini disebabkan remaja belum memiliki pengetahuan yang cukup terkait kehamilan dan pola asuh yang baik dan benar.

“Remaja juga masih sangat membutuhkan gizi untuk pertumbuhan hingga usia 21 tahun. Ketika mereka menikah & hamil, tubuh ibu berebut gizi dengan bayi yang dikandungnya & menyebabkan anak lahir stunting,” beber Rita.

Dalam kesempatan itu, Ketua TP PKK Kab. Enrekang Dra. Hj. Johra MB, M. Pd menyebutkan masalah stunting itu ada 3 faktor.

“Pola makan yang salah, biasanya memberikan makanan instan. Kedua, ketidak mampuan kita memilih menu yang benar dan mengolah menu itu sendiri. Misalnya memasak sayur kelor hingga layu yang mengakibatkan nutrisi pada sayur hilang. Padahal seharusnya setelah campurannya masak, lalu kita matikan kompor setelah itu barulah kita memasukkan daun kelor dan juga garam,” urai Johra.

Terakhir, pola asuh yang salah. Pola asuh itu harus dimulai sejak 0 tahun. Jangan membentak anak yang masih kecil. Karena sekali bentak akan menghambat tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikisnya. (red)

Artikel ini telah dibaca 16 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Babinsa Kodim 1420 Bantu Warga Panen Padi

19 September 2021 - 12:32 WITA

Pesta Pernikahan Langgar Prokes, Ini Kata Camat Watang Pulu

18 September 2021 - 15:49 WITA

Sekolah Tatap Muka Lancar  Meski Durasi Hanya 2-3 Jam Perhari

18 September 2021 - 13:52 WITA

Legislator Papua Barat Belajar Budidaya Porang di Sidrap

17 September 2021 - 21:00 WITA

Tim NasDem Peduli Berbagi di Desa Buae

17 September 2021 - 16:44 WITA

‘Jumat Berkah’, NasDem Barru Kunjungi Panti Asuhan Al Qasimiyah

17 September 2021 - 13:20 WITA

Trending di Fokus