Menu

Mode Gelap
Kontrak PPPK Terancam tak Diperpanjang Sejumlah Pemda, DPR RI Prihatin ASN ‘Kerja dari Rumah’ tiap Jumat, Berlaku mulai 1 April Sekretaris DPRD Kota Makassar Andi Rahmat Mappatoba Ikuti PKN II LAN RI untuk Perkuat Kepemimpinan Birokrasi THR Tak Dibayar Penuh, Menaker Sidak Perusahaan di Semarang Menaker Sebut Industri Kreatif Bisa Jadi Laboratorium Program Magang Nasional

Eksklusif · 19 Jul 2025 12:57 WITA ·

Dr. Bunyamin Yafid: Agama Harus Jadi Kekuatan untuk Bersahabat dengan Alam


 Dr. Bunyamin Yafid: Agama Harus Jadi Kekuatan untuk Bersahabat dengan Alam Perbesar

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP – Dalam kuliah umum yang digelar di Aula IAI DDI Sidrap, Dr. H. Bunyamin Yafid, Lc., M.H., Tenaga Ahli Menteri Agama RI, menyampaikan pesan penting mengenai peran agama dalam menjaga keseimbangan lingkungan, Sabtu, 19 Juli 2025.

Dengan tema “Penguatan Ekoteologi sebagai Program Prioritas Kementerian Agama RI,” kuliah umum ini menghadirkan sudut pandang tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

Di hadapan civitas akademika dan tokoh masyarakat, Dr. Bunyamin menegaskan bahwa konsep ekoteologi bukan sekadar teori, tetapi harus menjadi bagian dari kesadaran iman.

“Para filsuf sejak Yunani kuno telah memperhatikan alam secara serius. Mereka bertanya, apa itu ‘yang ada’? Dan bagaimana alam menjadi bagian dari eksistensi kita?” ungkapnya sambil menunjukkan materi presentasi yang memuat konsep filsafat wujud dan mawjud.

Lebih dari itu, ia mengingatkan bahwa dalam konteks keislaman, menjaga alam bukan hanya kewajiban sosial, tapi juga spiritual.

“Agama harus menjadi kekuatan moral yang mendorong manusia untuk bersahabat dengan alam. Alam bukan musuh, bukan alat eksploitasi. Ia adalah amanah yang harus dirawat,” tegasnya.

Dr. Bunyamin berharap mahasiswa IAI DDI Sidrap dapat menjadi pelopor dalam menyuarakan nilai-nilai ekoteologi Islam, baik dalam dunia akademik maupun di masyarakat.

Ia juga mengajak seluruh elemen umat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap lingkungan bukan sebagai sumber daya semata, tetapi sebagai sahabat dalam keberlangsungan hidup.

“Bersahabat dengan alam berarti hidup seimbang, tidak rakus, tidak merusak, dan selalu menyadari bahwa bumi ini warisan untuk generasi berikutnya,” tambahnya.

Kuliah umum ini menjadi pengingat kuat bahwa masa depan agama dan bumi harus berjalan seiring. Jika agama mampu menyentuh aspek ekologis umatnya, maka akan lahir masyarakat beriman yang juga peduli lingkungan. (asp)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

500 Peserta Hadiri Rakor Pangan Sidrap, Strategi Besar Hadapi El Nino Disiapkan

1 April 2026 - 21:53 WITA

Kontrak PPPK Terancam tak Diperpanjang Sejumlah Pemda, DPR RI Prihatin

1 April 2026 - 16:46 WITA

ASN ‘Kerja dari Rumah’ tiap Jumat, Berlaku mulai 1 April

1 April 2026 - 16:09 WITA

Sekretaris DPRD Kota Makassar Andi Rahmat Mappatoba Ikuti PKN II LAN RI untuk Perkuat Kepemimpinan Birokrasi

1 April 2026 - 13:39 WITA

THR Tak Dibayar Penuh, Menaker Sidak Perusahaan di Semarang

1 April 2026 - 13:29 WITA

Menaker Sebut Industri Kreatif Bisa Jadi Laboratorium Program Magang Nasional

1 April 2026 - 13:15 WITA

Trending di Ekonomi

Sorry. No data so far.