SIDRAP, — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Saromase atau perusahaan Umum Daerah Air Minum yang bergerak di bidang jasa pelayanan air minum untuk kebutuhan masyarakat Sidrap, mencatat adanya dua wilayah yang mengajukan permohonan bantuan air bersih, akibat kesulitan mendapatkan pasokan air. Laporan yang masuk berasal dari Kecamatan Tellu Limpoe dan Watang Pulu.
“Kami telah menerima dua laporan terkait ketersediaan air bersih, yang masuk kategori krisis air bersih. Masing-masing Tellu Limpoe dan Watang Pulu,” ujar Direktur PDAM Tirta Saromase Sidrap, Andi Hindi Tongkeng, ST., M.Adm.KP, Senin (24/8).

PDAM Tirta Saromase Sidrap menurunlkan armada mobil untuk menyuplai kebutuhan air bersih di sejumlah wilayah.

Untuk kasus krisis air bersih di dua kecamatan ini, PDAM Sidrap telah melakukan distribusi bantuan air bersih langsung kepada pelanggan. Namun begitu, petugas juga tetap masih melakukan survei lapangan di beberapa lokasi, seperti Pangkajene untuk memastikan kondisi ketersediaan air bersih dan menilai tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pasokan air bersih.
Menurut Andi Hindi, survei tersebut penting dilakukan sebagai dasar penentuan jumlah bantuan yang akan diberikan, termasuk kebutuhan armada tangki dan volume air yang harus disalurkan ke wilayah terdampak.
“Untuk Tellu Limpoe dan Watang Pulu, masih sudah melakukan distribusi air langsung ke pelanggan menggunakan mobil. Setiap hari, kami mendistribusikan sekitar 4.800 liter,” jelas dia.
Kendati begitu, ia menegaskan bahwa PDAM Tirta Saromase belum sampai pada upaya mencari sumber air baku.
Hanya saja, diakui bahwa terjadi memang terjadi penurunan debit sumber air hingga sekitar 90 persen, dan membuat sebagian pelanggan Perumda Tirta Saromase kesulitan memperoleh pasokan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kondisi itu dirasakan warga di sejumlah lokasi di Kecamatan Tellu Limpoe dan Kecamatan Watang Pulu. Di dua lokasi ini, krisis air mulai terasa sejak akhir Juli dan semakin parah sepanjang Agustus.
“Sudah sekitar tiga bulan terakhir ini terasa krisis air bersih. Kami harus bangun tengah malam untuk menampung air,” kata Suhri, seorang warga Kelurahan Arateng.
Persediaan air di rumahnya semakin terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia bahkan harus begadang menunggu air untuk keperluan rumah tetangga. (sp)