AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Dugaan permainan bbm subsidi, jenis Solar di Sidenreng Rappang rupanya belum selesai. Meski pria berinisial IL sempat diamankan aparat beberapa waktu lalu, kasus ini ternyata masih terus bergulir di meja penyidik Polres Sidrap. Perkembangan terbarunya, IL kini masih berstatus wajib lapor.

Kasat Reskrim Polres Sidrap, AKP Welfrick Ambarita, memastikan proses hukum belum berhenti dan penyidik masih menunggu satu hal penting, yakni keterangan ahli.

“Yang bersangkutan masih wajib lapor. Kasusnya masih lanjut. Kami sementara menunggu keterangan ahli,” ujar AKP Welfrick Ambarita.

Keterangan Welfrick memberi sinyal bahwa kasus ini, belum selesai. Pasalnya, masih ada keterangan ahli yang dibutuhkan penyidik terkait kasus dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi ini. Bahkan, kasus ini bisa berkembang lebih jauh.

IL sebelumnya diamankan di rumahnya di Desa Tanete, Kecamatan Maritengngae, Sabtu sore, 2 Mei 2026. Lokasinya, tak jauh dari SPBU Tanete.

Rumah IL hanya beberapa meter dari SPBU Tanete — tempat yang selama ini ramai dibicarakan warga soal aktivitas pengambilan solar subsidi.

Saat polisi datang, suasana sekitar sempat ramai. Warga melihat sejumlah aparat keluar masuk area rumah terduga. Dari lokasi itu, polisi turut menyita solar yang diduga akan didistribusikan.

Di kalangan warga sekitar, nama IL sebenarnya bukan hal baru. Aktivitas dugaan penimbunan BBM subsidi disebut sudah lama jadi bisik-bisik masyarakat.
Masalahnya, dampaknya mulai terasa langsung ke petani.

Terlebih, BBM jenis Solar sangat dibutuhkan petani di daerah seperti Sidrap, solar bukan sekadar bahan bakar biasa. Ini “nafas” mesin traktor, pompa air sawah, sampai aktivitas pertanian warga.

Yang bikin kasus ini makin sensitif, muncul dugaan solar subsidi itu tidak berhenti di Sidrap. Ada indikasi BBM dikumpulkan lalu dibawa keluar daerah menuju kawasan industri seperti Morowali. Kalau dugaan itu benar, berarti ada rantai distribusi yang bekerja rapi.

Karena itu, publik mulai bertanya-tanya, terkait keterlibatan jaringan besar di kasus ini. Desakan agar polisi menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain pun mulai menguat.

Termasuk dugaan adanya mata rantai distribusi dari level pengangkutan hingga pengisian BBM subsidi.

Sementara itu, polisi masih memilih menunggu hasil keterangan ahli sebelum melangkah lebih jauh. Di kasus seperti ini, pendapat ahli biasanya jadi “kunci pembuka” untuk menentukan arah penyidikan berikutnya. Dan di tengah kelangkaan solar yang terus dikeluhkan petani, publik kini menunggu seberapa jauh kasus ini akan dibongkar. (*/asp)