SIDRAP – Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSi) berhasil lolos sebagai penerima Program Bantuan Inovasi Pembelajaran Digital (IPD) Tahun 2026. Dalam pelaksanaannya, UMSi menggandeng Program Studi S1 Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) dan Universitas Cahaya Prima Bone untuk mengembangkan pembelajaran digital yang kolaboratif.

Program yang dikoordinasikan oleh Prof. Dr. Umar, S.Sos., M.Si. ini bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi digital. Melalui program tersebut, proses belajar diharapkan menjadi lebih fleksibel, interaktif, efisien, dan mampu menjawab tantangan pendidikan tinggi di era transformasi digital.

Ketua Program Studi S1 Administrasi Publik UMS Rappang, Sundari, S.A.P., M.A.P., mengatakan keterlibatan UMS Rappang dalam program tersebut merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam memperkuat kolaborasi akademik sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran.

“Kolaborasi ini menjadi kesempatan yang sangat baik bagi dosen dan mahasiswa untuk bersama-sama mengembangkan pembelajaran berbasis digital. Kami tidak hanya menjadi mitra dalam penyusunan perangkat pembelajaran, tetapi juga terlibat aktif dalam implementasi perkuliahan lintas perguruan tinggi,” ujar Sundari saat dikonfirmasi, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Sundari, UMS Rappang akan berkontribusi dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) digital, pengembangan Learning Object Materials (LOM), penyusunan modul pembelajaran, instrumen evaluasi, hingga pelaksanaan perkuliahan secara daring melalui Learning Management System (LMS).

“Program ini akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa karena mereka dapat berinteraksi dengan mahasiswa dari kampus lain melalui sistem pembelajaran digital yang terintegrasi. Ini menjadi bagian dari implementasi Merdeka Belajar yang mendorong kolaborasi dan inovasi,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, tim pengembang akan menerapkan pendekatan Case-Based Teaching, Problem-Based Learning, dan hybrid learning. Melalui metode tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya menguasai konsep administrasi publik, tetapi juga mampu menganalisis persoalan nyata, menyusun alternatif kebijakan, hingga mengambil keputusan berdasarkan kondisi lapangan.

Program ini juga akan menghasilkan berbagai perangkat pembelajaran digital berupa video pembelajaran, animasi, infografis, bahan presentasi, modul digital, hingga instrumen evaluasi yang dapat diakses melalui LMS maupun platform SPADA Indonesia.

Sebanyak 50 mahasiswa akan terlibat dalam program tersebut, terdiri atas 30 mahasiswa UMSi, 10 mahasiswa UMS Rappang, dan 10 mahasiswa Universitas Cahaya Prima Bone. Mereka akan mengikuti pembelajaran digital secara bersama sebagai upaya memperluas pengalaman akademik lintas kampus.

Tahapan kegiatan dijadwalkan dimulai pada September 2026, meliputi penyusunan perangkat pembelajaran, produksi media digital, implementasi perkuliahan, monitoring dan evaluasi, seminar hasil, hingga penyusunan laporan akhir.

Sundari berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi model pengembangan pembelajaran digital di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan memberikan dampak terhadap peningkatan kompetensi lulusan Administrasi Publik.

“Harapan kami, kolaborasi ini tidak berhenti pada Program IPD 2026 saja, tetapi menjadi awal lahirnya berbagai kerja sama akademik lainnya yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Pada akhirnya, mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar yang lebih adaptif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” tutupnya.