SIDRAP – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) memperkenalkan inovasi budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai solusi pengolahan limbah organik rumah tangga di Desa Cipotakari, Kabupaten Sidenreng Rappang. Kegiatan tersebut dikemas dalam bentuk penyuluhan dan demonstrasi yang berlangsung di pelataran rumah Ketua TP PKK Desa Cipotakari.

Penyuluhan dihadiri Kepala Desa Cipotakari Zainal, S.IP., Ketua dan anggota TP PKK Desa Cipotakari, mahasiswa KKN UMS Rappang, mahasiswa Program Belajar Lapangan (PBL) Universitas Hasanuddin, serta masyarakat setempat.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberikan edukasi mengenai pemanfaatan maggot BSF sebagai media pengurai limbah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Selain mampu mengurangi volume sampah organik, budidaya maggot menghasilkan larva berprotein tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas, serta menghasilkan kasgot (bekas maggot) yang bernilai sebagai pupuk organik.

Selama penyuluhan, peserta mendapatkan materi mengenai siklus hidup Black Soldier Fly, teknik pembuatan media budidaya, proses pemeliharaan, hingga tahapan panen maggot. Demonstrasi praktik budidaya turut dilakukan agar masyarakat dapat memahami prosesnya secara langsung dan mudah diterapkan di lingkungan masing-masing.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Ibu-ibu TP PKK aktif berdiskusi dan mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari kebutuhan sarana budidaya, biaya awal, teknik pemeliharaan, hingga peluang usaha yang dapat dikembangkan dari hasil budidaya maggot.

Kepala Desa Cipotakari, Zainal, S.IP., mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN UMS Rappang. Menurutnya, budidaya maggot BSF merupakan alternatif pengelolaan limbah organik yang ramah lingkungan sekaligus memiliki potensi ekonomi bagi masyarakat.

“Kami berharap ilmu yang diberikan mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan saja, tetapi dapat dipraktikkan oleh masyarakat sehingga mampu mengurangi sampah organik sekaligus membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.

Koordinator Desa (Kordes) KKN UMS Rappang, Al Khaisyurahman, menjelaskan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada pengelolaan sampah, tetapi juga memperkenalkan konsep ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat dan memiliki nilai jual.

“Melalui budidaya maggot BSF, masyarakat diajak melihat bahwa limbah rumah tangga bukan sekadar sampah, melainkan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Harapannya, inovasi ini dapat menjadi salah satu solusi dalam mendukung ketahanan ekonomi keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” jelas mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia itu.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi tema KKN UMS Rappang Tahun 2026, “Kemandirian Ekonomi Berbasis Agropreneur.” Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mahasiswa KKN berupaya mendorong tumbuhnya jiwa kewirausahaan berbasis potensi lokal yang berorientasi pada keberlanjutan.

Kolaborasi antara Pemerintah Desa Cipotakari, TP PKK, mahasiswa KKN UMS Rappang, mahasiswa PBL Universitas Hasanuddin, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan sistem pengelolaan limbah organik yang berkelanjutan, sekaligus mewujudkan desa yang lebih bersih, produktif, mandiri, dan memiliki daya saing ekonomi.