AJATAPPARENG.ONLINE, MAROS — Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an XXXIV Sulawesi Selatan di Lapangan Pallantikang, Minggu 12 April 2026 malam berlangsung meriah dan penuh kemegahan. Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, turut menghadiri pembukaan secara virtual dari Jakarta.
Sebanyak 1.044 kafilah dari 24 kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan ambil bagian dalam ajang religius bergengsi ini. Hadir langsung Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel, Ketua DPRD, para kepala daerah, serta jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel.
Suasana pembukaan semakin semarak dengan persembahan tari kolosal yang melibatkan sekitar 200 pelajar dari berbagai sekolah di Maros. Penampilan Haddad Alwi bersama Orkestra Pesantren Al Ikhlas Ujung, Kabupaten Bone, turut memukau ribuan penonton yang memadati arena.
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki sejarah panjang dalam penyelenggaraan MTQ nasional. “MTQ tingkat nasional pertama digelar di Sulawesi Selatan pada 1970, bahkan yang kedua juga masih di sini sebelum akhirnya bergilir ke provinsi lain,” ungkapnya.
Ia berharap MTQ kali ini menjadi momentum kebangkitan prestasi kafilah Sulsel di tingkat nasional. Menag menekankan pentingnya peningkatan pembinaan qari dan qariah agar mampu bersaing di level tertinggi. “Jangan sampai kita yang memulai, tetapi tidak pernah masuk sepuluh besar. Target kita harus tiga besar, bahkan juara pertama,” tegasnya.
Selain itu, Menag juga mengungkapkan rencana kebijakan ke depan terkait penyelenggaraan ajang Al-Qur’an tersebut. Pemerintah tengah mengkaji penghapusan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) dan mengarahkan fokus pada MTQ yang digelar setiap tahun.
Tak hanya itu, ia menyoroti semakin kuatnya relevansi Al-Qur’an dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, termasuk di era kecerdasan buatan. “Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat aktif dikaji, bahkan di laboratorium. Ayat-ayat sains di dalamnya semakin terbukti selaras dengan temuan modern,” ujarnya.
Menag menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar lomba tilawah, tetapi juga mencakup berbagai cabang seperti kaligrafi, tafsir, hingga diskusi ilmiah yang memperkaya pemahaman terhadap Al-Qur’an. Di akhir sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung di Maros.
“Seharusnya saya hadir di kampung halaman sendiri, namun ada tugas di Jakarta yang tidak bisa ditinggalkan. Meski begitu, hati saya tetap bersama Bapak-Ibu sekalian di arena MTQ ini,” tutupnya.
Pembukaan MTQ XXXIV Sulsel ini menjadi simbol kuat syiar Islam sekaligus ajang mempererat ukhuwah, dengan harapan mampu melahirkan generasi Qurani yang unggul dan berprestasi. (sp)















