AJATAPPARENG.ONLINE, MAKASSAR — Perubahan cuaca dan iklim ekstrem dinilai menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Sulawesi Selatan. Dampaknya tidak hanya memengaruhi produktivitas tanaman, tetapi juga meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) hingga memengaruhi stabilitas harga hasil pertanian.

Fungsional POPT sekaligus Penanggung Jawab IP3OPT Wilayah IV Maros, Abdul Kadir, S.P., mengatakan, Sulawesi Selatan memiliki karakteristik iklim yang terbagi menjadi tiga sektor, yakni sektor timur, sektor barat, dan sektor peralihan. Menurutnya, sektor barat menjadi wilayah yang paling rentan terdampak perubahan iklim ekstrem.

“Wilayah sektor barat meliputi Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa, Takalar sampai Jeneponto. Daerah-daerah ini paling terdampak cuaca ekstrem, khususnya kekeringan,” jelas Abdul Kadir.

Ia menerangkan, Sulawesi Selatan juga memiliki dua musim tanam utama, yakni musim rendengan pada Oktober hingga Maret dan musim gadu atau musim kemarau pada April hingga September. Untuk menghadapi ancaman kekeringan, petani disarankan melakukan percepatan waktu tanam agar masa panen tidak memasuki puncak musim kering yang biasanya terjadi pada Agustus hingga September. “Kalau tanamnya dipercepat di bulan April, insyaallah panennya sudah akhir Juli atau awal Agustus sehingga relatif aman dari puncak kekeringan,” ujarnya.

Selain pengaturan waktu tanam, penggunaan varietas padi berumur pendek juga menjadi salah satu strategi yang dianjurkan. Varietas seperti M70D, Pajajaran, Cakrabuana, Inpari 13, dan Inpari 19 dinilai lebih adaptif menghadapi ancaman cuaca ekstrem karena masa panennya kurang dari 100 hari. Abdul Kadir menambahkan, perubahan iklim ekstrem juga berdampak terhadap meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Kondisi tanaman yang kekurangan air menyebabkan daya tahan tanaman menurun sehingga lebih mudah terserang organisme pengganggu tumbuhan seperti ulat grayak, penggerek batang, tikus, hingga penyakit blas yang disebabkan oleh cendawan.

“Kalau tanaman kekurangan air, otomatis ketahanannya lemah. Akibatnya hama dan penyakit lebih gampang menyerang,” katanya. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Balai Proteksi Tanaman terus mendorong penggunaan agen hayati sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan cendawan dan bakteri baik dinilai lebih aman dibanding penggunaan bahan kimia secara berlebihan. “Kalau masih bisa dikendalikan dengan agen hayati, itu lebih baik. Penggunaan bahan kimia adalah langkah terakhir supaya ekosistem tetap terjaga,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah daerah bersama penyuluh pertanian, TNI, dan berbagai pemangku kepentingan juga terus melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan serangan hama. Langkah tersebut dilakukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Abdul Kadir optimistis sektor pertanian Sulawesi Selatan tetap mampu bertahan menghadapi ancaman perubahan iklim apabila strategi penanganan dilakukan secara terpadu. Menurutnya, potensi pertanian Sulawesi Selatan masih sangat besar karena memiliki karakteristik wilayah yang saling mendukung antar sektor iklim. (sp)