Menu

Mode Gelap
Juara Lomba Adzan, TPQ Polres Sidrap di HUT YKB ke-46 Raih Hadiah Umroh Buka Puasa Bersama Warga, Cahaya Mario Salurkan Zakat dan Modal Usaha Bupati SAR minta Warga Support Misi Sidrap Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Gafur Lapangan Padel Royal Metro Sky Pinrang Resmi Dibuka, Fasilitas Modern dan Lengkap! Perluas Pengawasan Partisipatif, Bawaslu Sidrap Teken MoU dengan PMII

Ajatappareng · 20 Jan 2026 18:24 WITA ·

Rekanan Proyek Irigasi di Amparita Sebut Pengecoran Terkendala Cuaca


 Rekanan Proyek Irigasi di Amparita Sebut Pengecoran Terkendala Cuaca Perbesar

AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Proyek irigasi Balai Besar Wilayah Pompengan, di Kecamatan Tellu Limpoe, molor dari jadwal.

Cuaca dalam beberapa hari terakhir dituding sebagai penyebab utamanya. Padahal, proyek ini mulai Mei 2025 dan berakhir 31 Desember 2025.

Muh Idris selaku pengawas proyek mengungkapkan bahwa pekerjaan saluran irigasi tersebut dikerjakan oleh CV Sejahtera Acap dengan masa pelaksanaan selama 240 hari kalender.

Proyek dimulai sejak 5 Mei 2025 dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025 melalui Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang.

“Memang benar ada keterlambatan dalam pengerjaan. Salah satu penyebab utamanya karena cuaca. Saat hendak melakukan pengecoran sering turun hujan, sehingga pekerjaan harus dihentikan sementara,” ujar Muh Idris saat dikonfirmasi, Selasa, 20 Januari 2026.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca yang tidak mendukung sangat mempengaruhi proses pengecoran, terutama pada bagian struktur saluran irigasi yang membutuhkan kondisi kering dan stabil agar kualitas bangunan tetap terjaga.

“Iya, masih ada cor dinding saluran sepanjang 150 meter yang belum selesai. Ini karena cuaca akhir-akhir ini,” ujar Idris ketika dihubungi Media, Selasa (20/1/2026).

Alasan proyek irigasi BBWS molor karena hujan, justru menuai kritik.

Banyak pihak menilai, alasan ini membuktikan bahwa perencanaan memang tak matang. Sebab, sudah menjadi hal yang umum,  dalam setiap pembangunan, apalagi proyek besar, pelaksana kegiatan memetakan kendala termasuk hujan.

Hal ini bertujuan supaya kendala tersebut tak mengganggu pekerjaan.

“Kok, malah menyalahkan alam. Dari dulu, hujan pasti turun. Dan cuaca dari Mei-Desember itu belum musim hujan. Memang ini terlambat,” kata seorang sumber yang enggan disebut.

Menurutnya, pasti ada masalah lain yang menghambat proyek yang vital bagi sektor pertanian ini.

Menyalahkan alam adalah bukti ketidakmampuan rekanan atau kontraktor menjelaskan secara logis tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Proyek tersebut ditargetkan selesai pada akhir tahun 2025 lalu. Namun, hingga Selasa, 20 Januati 2026, aktivitas pengerjaan masih berlangsung di wilayah Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe. (sp)

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Juara Lomba Adzan, TPQ Polres Sidrap di HUT YKB ke-46 Raih Hadiah Umroh

10 Maret 2026 - 23:45 WITA

Kemenag dan MUI Perkuat Sinergi Awasi Penyalahgunaan Agama dalam KUHP

10 Maret 2026 - 22:50 WITA

Safari Ramadan Hari ke-20 Berlangsung di Rumah Aspirasi SAR

10 Maret 2026 - 21:46 WITA

Evaluasi LPPD 2025, Wabup Sidrap Dorong OPD Susun Strategi Tingkatkan Kinerja

10 Maret 2026 - 21:28 WITA

Buka Puasa Bersama Warga, Cahaya Mario Salurkan Zakat dan Modal Usaha

9 Maret 2026 - 20:17 WITA

Jadi Tuan Rumah Porseni PGRI 2026, Sidrap Bersiap ‘Jamu’ 60.000 Tamu

9 Maret 2026 - 10:49 WITA

Trending di Ajatappareng