Penulis: Shepa Wela

EUFORIA piala dunia telah berakhir sejak Senin dini hari (20/7). Segala emosi dari mulai marah, tangis kesedihaan dan tawa kebahagiaan tumpah ruah setelah peluit akhir ditiupkan di partai final antara Argentina vs Spanyol.

Pendukung kedua tim, disuguhkah permainan yang memaksa mereka bergantian melakukan euforia, hingga akhirnya benar-benar ditentukan gol penentu, Ferran Torres.

Di partai final, saya tak bersama Lansong. Tak ikut nonton bareng menyaksikan final pesta sepakbola terbesar di dunia itu. Saya sudah berjanji, kalau Lansong ikut nobar, saya pun demikian.

Tapi, beberapa hari sebelum kick off partai final, Lansong sudah mengupas partai terakhir itu dengan komentar-komentarnya. Mulai isu piala dunia yang kontroversi, karir Messi, strategi pelatih, hingga campur tangan bandar judi sepak bola.

Semasa mudanya, Lansong memang punya skill sepakbola. Namun di saat usianya sekarang, skillnya berubah jadi komentator ‘dadakan’.

Pendapatnya terkadang lebih pintar dari Lionel Scaloni, pelatih Argentina. Bahkan, sesekali terkadang memihak para bandar judi.

Lansong larut di euforia selama event piala dunia berlangsung. Cuma saya bingung, entah tim mana yang dia favoritkan. Lansong paling sibuk diantara supporter. Messi cetak gol, dia girang, giliran Mbappe mencetak gol, Lansong berlompat gembira.

Yah, itulah sepakbola, bisa menyenangkan bagi banyak orang. Salah satunya Lansong. Tim manapun yang juara, ia ikut ber-euforia.

Ia puas mengomentari setiap pertandingan, rela begadang hingga pagi, rokok habis, bahkan bicara bola sambil main catur.

Kopi tak cukup segelas. Nambah lagi jika ada teman diskusi. Benar-benar seperti orang yang menang ‘taruhan’, meski saya yakin, tim andalan Lansong gugur lebih awal di babak penyisihan…hahaha

Selamat Song.. Meski tak ikut begadang, tapi terbiasa minum kopi tanpa rokok, ANDALAH pemenangnya...($)