Menu

Mode Gelap
Pemkab Pinrang Pastikan Harga Pangan Stabil Jelang Idul Fitri Respon Cepat, Dinsos Sidrap Kunjungi Rumah Guru Mengaji Disabilitas Juara Lomba Adzan, TPQ Polres Sidrap di HUT YKB ke-46 Raih Hadiah Umroh Buka Puasa Bersama Warga, Cahaya Mario Salurkan Zakat dan Modal Usaha Bupati SAR minta Warga Support Misi Sidrap Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Gafur

Eksklusif · 18 Mar 2026 10:09 WITA ·

Willem Wandik dan Pesan Toleransi dari Karubaga: Berbuka dalam Kebersamaan


 Willem Wandik dan Pesan Toleransi dari Karubaga: Berbuka dalam Kebersamaan Perbesar

AJATAPPARENG.ONLINE, TOLIKARA — Senja perlahan turun di langit Karubaga. Di pelataran masjid yang menjadi pusat aktivitas umat Muslim di ibu kota Kabupaten Tolikara, suasana terasa berbeda.

Hangat, penuh harap, dan sarat makna. Di tengah mayoritas masyarakat yang beragama Nasrani, sebuah momen kebersamaan justru lahir dari perbedaan itu sendiri.

Bupati Tolikara, Willem Wandik, S.Sos, hadir dan duduk bersisian bersama umat Muslim dalam agenda buka puasa bersama. Bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah pernyataan sikap—bahwa kepemimpinan adalah tentang merangkul, bukan membedakan.

Acara ini turut dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Tolikara, unsur Forkopimda, para kepala OPD, serta masyarakat Muslim yang memadati area masjid di Karubaga.

Kehadiran lintas elemen tersebut menjadi simbol bahwa ruang kebersamaan di Tolikara tidak pernah dibatasi oleh sekat keyakinan.

Toleransi yang Hidup, Bukan Sekadar Narasi

Dalam sambutannya, Willem Wandik menegaskan bahwa keberagaman adalah fondasi kekuatan Tolikara. Ia tidak berbicara sebagai pemimpin formal semata, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memahami arti hidup berdampingan.

“Kita semua adalah insan yang beriman. Keyakinan yang berbeda adalah alasan yang menguatkan kita untuk terus saling bergandengan tangan. Keindahan Tolikara salah satunya adalah berjalan beriringan di atas perbedaan,” ujarnya.

Pesan tersebut bukan sekadar kata-kata. Ia tercermin dalam tindakan nyata—hadir di tengah umat Muslim pada momentum sakral Ramadan, meski dirinya dikenal sebagai sosok Nasrani yang taat.

Di Tolikara, toleransi bukan slogan yang dipajang di baliho. Ia hidup dalam keseharian: dalam sapaan, dalam gotong royong, dan dalam momen-momen sederhana seperti berbagi takjil di pinggir jalan.

Apresiasi dari Kementerian Agama

Langkah Bupati Tolikara ini pun mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kepala Biro Humas dan Informasi Kementerian Agama RI, Tobin Al Azhar, memberikan apresiasi atas sikap inklusif yang ditunjukkan Willem Wandik.

Menurutnya, kehadiran seorang kepala daerah lintas iman dalam kegiatan keagamaan adalah refleksi dari kepemimpinan yang matang secara spiritual dan sosial.

“Kita tahu beliau adalah seorang Nasrani yang patuh. Namun di momentum Ramadan, beliau tetap hadir menyemai kebersamaan dengan masyarakat Muslim. Ini adalah cerminan pemimpin yang benar-benar menempatkan diri sebagai bapak bagi semua golongan,” ungkap Tobin saat dikonfirmasi di Jakarta.

Apresiasi tersebut menjadi penegas bahwa praktik toleransi di daerah seperti Tolikara memiliki dampak nasional, bahkan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia.

Dari Takjil Hingga Kebersamaan

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Tolikara juga menginisiasi kegiatan berbagi takjil di berbagai titik di Karubaga.

Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, lintas agama, yang bersama-sama turun ke jalan untuk berbagi kepada sesama.

Momentum ini memperlihatkan bahwa toleransi tidak hanya hadir dalam ruang formal, tetapi juga tumbuh dari kepedulian sosial yang sederhana namun bermakna.

Di tengah tantangan kehidupan berbangsa yang kerap diuji oleh perbedaan, Tolikara justru menunjukkan wajah lain Indonesia—wajah yang teduh, saling menghargai, dan penuh empati.

Tolikara: Harmoni dari Timur Indonesia

Kabupaten Tolikara, yang berada di wilayah Papua Pegunungan, mungkin jauh dari hiruk pikuk pusat kekuasaan.

Namun dari lembah Nawi Arigi, sebuah pesan kuat dikirimkan: bahwa persatuan tidak harus lahir dari keseragaman.

Di sana, lonceng gereja dan lantunan azan tidak saling bersaing, melainkan berdampingan dalam harmoni.

Dan di tengah harmoni itu, seorang pemimpin hadir—tidak hanya untuk memimpin, tetapi untuk memastikan bahwa setiap warganya, apapun keyakinannya, merasa dipeluk dalam rumah yang sama bernama Tolikara.

Buka puasa bersama yang digelar Willem Wandik bukan sekadar agenda Ramadan. Ia adalah refleksi nilai, tentang bagaimana perbedaan tidak memisahkan, melainkan justru menguatkan.

Di Tolikara, toleransi bukan hanya diajarkan. Ia dirayakan.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sinergi di Bawah Langit Senja, Buka Puasa Bersama Kodim 1420 Sidrap Penuh Makna

17 Maret 2026 - 18:26 WITA

Menjahit Kembali Harapan yang Tertunda: Kiprah Willem Wandik di Tolikara

17 Maret 2026 - 17:24 WITA

Pemkab Pinrang Pastikan Harga Pangan Stabil Jelang Idul Fitri

17 Maret 2026 - 13:40 WITA

Respon Cepat, Dinsos Sidrap Kunjungi Rumah Guru Mengaji Disabilitas

17 Maret 2026 - 11:07 WITA

Miris, Guru Mengaji di Amparita Huni Rumah tak Layak dan Sakit-sakitan

16 Maret 2026 - 22:05 WITA

Viral di Medsos, Polisi Jelaskan Penyebab Kecelakaan Beruntun di Sidrap

14 Maret 2026 - 22:06 WITA

Trending di Eksklusif

Sorry. No data so far.