SIDRAP – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Angkatan VIII Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) menghadirkan inovasi kandang maggot ramah lingkungan di Desa Cipotakari, Kabupaten Sidenreng Rappang, Jumat (17/7/2026).

Program ini menjadi solusi pengelolaan limbah organik sekaligus mendukung kemandirian pakan ternak dan peningkatan ekonomi masyarakat desa.

Inovasi tersebut memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah organik rumah tangga menjadi pakan bernutrisi tinggi bagi ikan dan unggas.

Selain itu, residu hasil proses biokonversi juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dapat digunakan oleh petani.

Mahasiswa KKN Posko Desa Cipotakari, Ahmad Dzarwan Hamid, mengatakan kandang maggot dirancang dengan konsep sederhana, efisien, dan ramah lingkungan sehingga mudah diterapkan serta dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat.

“Kandang ini dirancang agar mudah dioperasikan oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan yang sederhana. Melalui budidaya maggot, limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi pakan berkualitas sekaligus menghasilkan pupuk organik yang bermanfaat bagi sektor pertanian,” ujar Ahmad Dzarwan.

Menurutnya, budidaya maggot tidak hanya menjadi solusi dalam mengurangi volume sampah organik, tetapi juga mampu menekan biaya produksi peternakan dan perikanan melalui penyediaan pakan alternatif yang lebih murah.

Ia menambahkan, pengembangan budidaya maggot juga memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Selain dimanfaatkan sendiri, maggot segar maupun kering memiliki nilai jual yang dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat desa.

“Harapannya, masyarakat tidak hanya merasakan manfaat dari sisi lingkungan, tetapi juga memperoleh peluang usaha baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga,” katanya.

Program tersebut merupakan implementasi tema KKN Angkatan VIII UMS Rappang, yakni “Digitalisasi Tata Kelola dan Kemandirian Ekonomi Berbasis Agropreneur Menuju Desa yang Inovatif, Mandiri, dan Religius.

” Melalui inovasi berbasis potensi lokal ini, mahasiswa berupaya mendorong lahirnya ekonomi sirkular di tingkat desa dengan memanfaatkan limbah sebagai sumber daya yang bernilai.

Kehadiran kandang maggot ramah lingkungan di Desa Cipotakari diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir.

Dengan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, program ini diharapkan mampu menciptakan desa yang lebih produktif, mandiri, sekaligus berwawasan lingkungan.