SIDRAP – Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan mengembleng unsur pimpinan Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) dalam kegiatan Baitul Arqam pimpinan sebagai bagian dari penguatan ideologi, spiritualitas, dan profesionalisme dosen di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Pada hari pertama pelaksanaan, peserta mengikuti materi bertajuk “Hakikat Islam (I): Peran Tauhid dalam Kehidupan” yang mengupas konsep tauhid sejak era klasik hingga kontemporer.

Materi juga menekankan tauhid sebagai spirit kemajuan umat serta implementasi nilai amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan akademik.

Materi tersebut disampaikan oleh Drs. KH. Kalam Fatah, M.Kes. dengan pendamping Sitti Chaerani Djaya, S.Sos., M.Pd.

Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa tauhid bukan hanya menjadi fondasi keimanan, tetapi juga menjadi dasar pembentukan karakter, etika, dan tanggung jawab seorang dosen dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi.

Melalui sesi ini, peserta diharapkan semakin memahami hakikat tauhid sebagai landasan utama kehidupan seorang muslim, menumbuhkan integritas dan tanggung jawab moral sebagai dosen Muhammadiyah, serta mampu menginternalisasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Baitul Arqam merupakan program kaderisasi strategis Muhammadiyah yang dirancang untuk membentuk dosen yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki komitmen keislaman, keilmuan, dan kepemimpinan yang kuat. Program ini diharapkan mampu melahirkan sumber daya insani yang siap mengakselerasi terwujudnya perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul, berkemajuan, dan berdaya saing.

Salah seorang peserta dari Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang), yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Islam (LPPI), Saifullah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa materi tentang tauhid memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai peran dosen sebagai agen dakwah dan agen perubahan di lingkungan kampus.

“Materi ini mengingatkan kami bahwa tauhid tidak berhenti pada aspek keyakinan, tetapi harus tercermin dalam integritas, etos kerja, serta tanggung jawab moral sebagai pendidik. Sebagai dosen Muhammadiyah, kami memiliki amanah untuk menghadirkan nilai-nilai Islam Berkemajuan dalam setiap pelaksanaan tridarma perguruan tinggi,” ujar Saifullah.

Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Baitul Arqam dapat diimplementasikan di lingkungan UMS Rappang, khususnya dalam memperkuat pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), membangun budaya akademik yang berlandaskan nilai-nilai Islam, serta mencetak lulusan yang unggul, profesional, dan berkarakter Islami.

“Semoga kegiatan ini menjadi energi baru bagi kami untuk terus memperkuat ideologi Muhammadiyah di lingkungan kampus serta berkontribusi mewujudkan UMS Rappang sebagai kampus Islami yang unggul, berkemajuan, dan berdaya saing global,” pungkasnya.