SIDRAP, — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para petani agar menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman tahan kekeringan sebagai langkah antisipasi musim kemarau panjang. Pasalnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan lebih kering.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DTPHP), Anju Saleh, SP M.Si kepada media, Sabtu (29/8) mengatakan, petani di sejumlah wilayah di Sidrap harus menyesuaikan jadwal tanam karena curah hujan berada di bawah normal dan musim hujan diprediksi baru dimulai pada pertengahan Oktober 2026.

Minimnya curah hujan, akan mengakibatkan kekurangan pasokan air irigasi, sehingga menurunkan kelembapan tanah dan mengancam produktivitas tanaman pangan seperti padi.

Anju mengatakan, untuk menghadapi kemarau dan fenomena el nino tahun 2026, salah satu upaya yang ditempuh Bupati dan Pemerintah Daerah Sidrap adalah dengan mempercepat pengolahan tanah dan tanam pada musim tanam April-September 2026.

“Penyesuaian dan perubahan pola jadwal tanam inilah yang menyebabkan Kabupaten Sidenreng Rappang tidak terlalu banyak areal sawahnya yang terancam puso akibat kekeringan,” ujarnya.

Upaya lainnya, adalah dengan memotivasi petani untuk menanam varietas genjah (umur pendek) dan varietas yang tidak membutuhkan banyak air. Dan ini juga terbukti, petani berhasil panen lebih awal dan tidak terancam puso akibat kekeringan.

Anju menambahkan, sebagai langkah mitigasi Dinas Ketahan Pangan, dengan memaksimalkan potensi pembangunan sumber-sumber air, seperti embung, dan parit, long storage, sumur bor, irigasi perpompaan dan perpipaan, sehingga menjadi sumber air pendukung pada saat terjadi musim kemarau.

“Terutama pembangunan sumur bor. Itu sudah terbukti dapat menyiapkan air irigasi pada saat sumber-sumber air permukaan seperti sungai, embung dan bendungan mengalami kekeringan, dukungan program listrik masuk sawah yang dipelopori Bapak Bupati juga terbukti memberikan manfaat yang efektif dan efesien dalam meningkatkan produksi padi pada saat terjadi kemarau el nino,” terangnya.

Kabupaten Sidrap memiliki 18.000 Ha Luas lahan sawah yang tidak memiliki sumber air, dan tahun 2026 ini telah mendapatkan bantuan infrastruktur irigasi sumur bor dan listrik masuk sawah sehingga pada saat terjadi kemarau el nino ini dapat berhasil panen. (sp)