PINRANG – Seorang remaja berinisial MS (13) di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi korban pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh tiga orang temannya sendiri. Peristiwa ini dipicu aksi balas dendam setelah salah satu pelaku mengaku pernah terkena tembakan bambu dari korban.

Kanit PPA Polres Pinrang, Ipda Dewa Bharata, membenarkan pihaknya tengah menangani laporan terkait dugaan tindak pidana penganiayaan yang melibatkan anak di bawah umur.

“Kami sementara menangani laporan terkait dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan anak di bawah umur,” ujar Dewa Bharata kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).

Peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi di Jalan Tonrong Sadang, Kelurahan Tiroang, pada Sabtu (11/7/2026) malam. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kejadian bermula saat korban sedang bermain di area masjid usai melaksanakan salat Magrib.

“Korban berada di masjid sedang bermain setelah Magrib. Berselang beberapa saat, datang pihak terlapor memanggil korban, kemudian diajak ke depan masjid,” jelasnya.

Setibanya di depan masjid, korban diduga langsung dikeroyok oleh tiga anak secara bergantian. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka dan sempat menjalani perawatan medis.

Dewa mengungkapkan, ketiga terlapor masing-masing berusia 10 tahun, 13 tahun, dan 14 tahun. Bentuk kekerasan yang dilakukan berupa pukulan dan tendangan.

“Menurut keterangan korban, matanya sempat ditutup sambil berjalan. Tidak selang beberapa meter kemudian dilakukan tendangan oleh salah satu terlapor, lalu dilanjutkan oleh terlapor lainnya hingga akhirnya beberapa warga datang dan mereka berlarian,” ungkapnya.

Dalam proses penyelidikan, polisi telah memeriksa korban, pelapor, sejumlah saksi, hingga para terlapor. Mengingat seluruh pihak yang terlibat masih berstatus anak, pemeriksaan dilakukan dengan pendampingan orang tua masing-masing.

“Korban sudah kami periksa, beberapa saksi juga sudah kami mintai keterangan, termasuk terlapor. Karena semuanya masih anak-anak, proses pemeriksaan didampingi orang tua,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui pemicu kejadian berawal dari permainan tembak-tembakan bambu menggunakan peluru kertas. Salah satu terlapor merasa terkena tembakan dari korban, sehingga memicu aksi balas dendam

“Hal ini terjadi karena bermain tembak-tembakan bambu yang pelurunya terbuat dari kertas. Korban dianggap mengenai salah satu dari tiga terlapor, sehingga memicu pengeroyokan,” jelas Dewa.

Saat ini, pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut dan berencana menggelar perkara untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.

“Hari ini kami rencanakan gelar perkara untuk menentukan tindak lanjut penanganan kasusnya. Saat ini masih dalam tahap penyelidikan,” pungkasnya. (ac)