SIDRAP – Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang (UMS Rappang) mulai mematangkan persiapan penelitian lapangan melalui rapat koordinasi dan konsolidasi yang digelar di Lantai II Gedung Rektorat UMS Rappang, Senin (6/7/2026).

Rapat tersebut menjadi langkah awal sebelum tim melakukan pengumpulan data di tiga desa sebagai lokasi penelitian fundamental yang didanai pemerintah.

Penelitian yang diusung mengangkat tema “Kerangka Integratif Agile Leadership, Modal Sosial, dan Kapasitas Aparatur dalam Tata Kelola Desa Responsif Gender.” Penelitian ini diketuai oleh Dr. Hj. Andi Astinah Adnan, S.S., S.Pd., M.Si., dengan anggota tim Prof. Dr. Hj. Nurjannah Nonci, M.Si. dan Dr. Abdul Jabbar, S.I.P., M.Si.

Adapun lokasi penelitian mencakup Desa Sipodeceng, Desa Bulo, dan Desa Binabaru. Ketiga desa tersebut dipilih untuk memperoleh gambaran komparatif mengenai penerapan tata kelola desa yang responsif terhadap gender serta sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan desa.

Anggota tim peneliti, Dr. Abdul Jabbar, menjelaskan bahwa tahap awal penelitian akan difokuskan pada pengumpulan data melalui dialog dan wawancara dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat desa.

“Kami bersama seluruh tim akan turun langsung ke lapangan untuk bertemu dengan kepala desa, aparatur pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Kami akan berdiskusi, berdialog, dan melakukan wawancara guna mengetahui bagaimana respons mereka terhadap isu-isu yang menjadi fokus penelitian ini,” ujarnya usai rapat koordinasi.

Ia menjelaskan, penelitian tersebut merupakan bagian dari Program Bantuan Riset BIMA yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui skema penelitian fundamental. Proposal penelitian yang diajukan sebelumnya berhasil lolos seleksi sehingga kini memasuki tahap implementasi di lapangan.

Menurut Abdul Jabbar, pemilihan tiga desa dilakukan agar tim peneliti dapat membandingkan berbagai kondisi sosial, kapasitas aparatur, hingga pola kepemimpinan desa dalam mendukung tata kelola yang inklusif dan responsif gender.

“Penelitian ini tidak hanya dilakukan di satu desa, tetapi di tiga desa sekaligus. Kami ingin melihat perbandingan respons masyarakat dan bagaimana praktik tata kelola desa di masing-masing lokasi sehingga hasil penelitian menjadi lebih komprehensif,” katanya.

Proses pengumpulan data ditargetkan berlangsung selama sekitar satu bulan. Setelah seluruh data terkumpul, tim akan melakukan analisis secara mendalam sebelum menyusun luaran penelitian dalam bentuk publikasi ilmiah bereputasi internasional.

“Target kami setelah pengumpulan dan analisis data adalah mempublikasikan hasil penelitian ini pada jurnal internasional terindeks Scopus sebagai bagian dari luaran penelitian,” tambahnya.

Lebih jauh, Abdul Jabbar berharap penelitian tersebut tidak hanya memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat diterapkan dalam tata kelola pemerintahan desa.

Menurutnya, salah satu fokus utama penelitian adalah memperkuat pelibatan perempuan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa. Selama ini, peran perempuan dalam pembangunan dinilai masih perlu diperkuat agar mampu berkontribusi secara lebih strategis.

“Kami ingin melihat bagaimana perempuan dilibatkan dalam seluruh tahapan pembangunan desa, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan program, hingga pengawasan dan evaluasi. Ketika perempuan diberikan ruang yang lebih besar dalam pembangunan, kami optimistis desa akan memiliki tata kelola yang lebih inklusif, maju, dan berkelanjutan,” pungkasnya.