AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Puluhan mualaf di Kabupaten Sidenreng Rappang yang tergabung dalam komunitas Family Muallaf Bersama (FMB) menggelar kegiatan buka puasa bersama yang penuh kehangatan di Masjid Nurul Huda, Kelurahan Toddang Pulu, Kecamatan Tellu Limpoe, Kamis (26/02/25).
Kegiatan ini turut melibatkan da’i dari Komunitas Pendakwah Keren (KPK), Ustadz Muh Ilyas M. Pd, serta relawan kemanusiaan dari Asia Muslim Charity Foundation (AMCF). Suasana kebersamaan terasa sejak sore hari, dimulai dengan tausiyah singkat, pembinaan keislaman, hingga buka puasa bersama.
Ustadz Ilyas yang juga menjadi pembimbing para mualaf mengatakan, pendampingan rutin sangat penting bagi mereka yang baru memeluk Islam.
“Pendampingan itu bukan cuma mengajarkan cara salat atau mengaji. Yang paling penting adalah memastikan mereka merasa diterima dan tidak berjalan sendiri dalam proses hijrahnya,” ujar Ilyas.
Ia menambahkan, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperkuat keimanan sekaligus mempererat hubungan sosial antaranggota komunitas.
“Kalau masjid hidup dengan kebersamaan, maka iman mereka juga akan tumbuh lebih kuat,” tambahnya.
Ditempat yang sama, Ketua FMB, Riska Sunarto, menjelaskan bahwa agenda ini bukan sekadar berbagi makanan saat berbuka, melainkan ruang silaturahmi dan penguatan mental spiritual bagi para mualaf yang masih beradaptasi dengan lingkungan barunya.
“Banyak teman-teman mualaf yang butuh pendampingan, bukan hanya materi, tapi juga dukungan moral. Lewat kegiatan seperti ini, mereka merasa punya keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian mualaf menghadapi tantangan sosial, bahkan kehilangan dukungan dari lingkungan lama. Karena itu, kehadiran komunitas menjadi sangat berarti.
“Kami ingin FMB ini jadi rumah kedua. Tempat mereka bisa bertanya, belajar, dan mengadu tanpa takut dihakimi,” kata Riska.
Selain pembinaan rohani, AMCF turut menyalurkan paket berbuka puasa dan bantuan kebutuhan pokok untuk para peserta. Bantuan tersebut disambut hangat, terutama bagi mereka yang membutuhkan dukungan ekonomi.
Salah seorang mualaf yang enggan disebutkan namanya mengaku terharu dengan perhatian yang diberikan. Ia merasa lebih percaya diri menjalani kehidupan barunya sebagai Muslim.
“Dulu saya merasa canggung datang ke masjid. Tapi di sini kami disambut hangat. Ada yang membimbing, ada yang mendengar. Rasanya seperti punya keluarga baru,” tuturnya.
Kegiatan ditutup dengan salat Magrib berjamaah dan doa bersama. Riska berharap agenda serupa dapat rutin dilaksanakan, khususnya selama Ramadan, sebagai bentuk kepedulian sekaligus penguatan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
“Harapan kami sederhana, semoga masjid benar-benar jadi rumah bagi siapa pun yang ingin belajar Islam,” pungkasnya. (*)











