SIDRAP, — Dusun Matajang adalah bagian dari Desa Tana Toro, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Kawasan ini berada di wilayah pegunungan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Enrekang dan masuk dalam wilayah penyangga rencana konservasi Taman Nasional Pegunungan Latimojong.

Di dusun yang memikiki akses jalan pegunungan yang menantang ini, warga banyak bergantung ada kopi. Yah, Matajang punya kopi lokal, green bean.

Kopi green bean adalah biji kopi mentah yang belum disangrai (di-roast) dan merupakan bentuk paling alami setelah buah ceri kopi dikeringkan. Biji ini kaya akan asam klorogenat dan umumnya digunakan oleh roastery untuk diolah lebih lanjut atau diekstrak untuk suplemen diet.

Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), H Syaharuddin Alrif, dalam kunjungannya di Desa Tana Toro, akhir pekan lalu, mengapresiasi upaya petani dalam menjaga mutu kopi lokal.

SAR meninjau proses pengupasan kulit tanduk kopi (hulling) di Dusun Matajang, Desa Tana Toro, Kecamatan Pitu Riase, Ahad (14/6/2026).

Peninjauan tersebut dilakukan setelah sebelumnya Bupati melihat proses pengupasan kulit luar kopi sebagai bagian awal pengolahan pascapanen.

Pengolahan kopi pascapanen yang dilakukan petani setelah biji kopi melalui proses pengeringan. Proses hulling merupakan tahap pengupasan kulit tanduk yang masih melekat pada biji kopi kering untuk menghasilkan biji kopi beras (green bean).

Bupati melihat langsung cara kerja alat pengupas kopi serta berdialog dengan petani mengenai proses pengolahan yang mereka lakukan. Menurutnya, setiap tahapan pascapanen memiliki peran penting dalam menentukan kualitas akhir produk kopi.

Pengupasan kulit tanduk bertujuan memisahkan lapisan yang melekat pada biji kopi setelah proses pengeringan. Hasil proses tersebut berupa biji kopi beras (green bean) yang selanjutnya melalui tahap penyortiran dan pengolahan lanjutan sebelum disangrai (roasting).

Syaharuddin mengapresiasi kerja petani yang terus berupaya menjaga kualitas hasil panen kopi. “Pengelolaan pascapanen yang baik dapat meningkatkan nilai jual produk kopi lokal sekaligus memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu penopang perekonomian masyarakat di wilayah pegunungan Pitu Riase,” ujar Bupati SAR.

“Pengembangan komoditas kopi tidak hanya bergantung pada budidaya, tetapi juga pada kemampuan petani mengelola hasil panen melalui proses pengolahan yang tepat,” tambahnya.

Jelajahi Tana Toro dengan Motor Trail

Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sidrap menyusuri sejumlah dusun di Desa Tana Toro, Kecamatan Pitu Riase, menggunakan motor trail, Ahad (14/6/2026).

Bupati Sidrap harus menggunakan motor trail untuk menelusuri Desa Tana Toro, Minggu (14/6).

Kegiatan tersebut dilakukan setelah Bupati dan rombongan bermalam di Desa Tana Toro sebagai bagian dari upaya mendekatkan pelayanan pemerintah serta melihat langsung kondisi masyarakat di wilayah pegunungan.

Perjalanan dimulai dari Kantor Desa Tana Toro menuju Dusun Matajang, dilanjutkan ke Dusun Lariu, dan berakhir di Dusun Tana Toro. Rombongan melewati jalur perbukitan dan jalan desa yang menghubungkan permukiman warga serta kawasan perkebunan masyarakat.

Dalam perjalanan, Syaharuddin Alrif meninjau kebun kopi yang menjadi salah satu komoditas unggulan masyarakat setempat. Ia berdialog dengan petani mengenai produksi, pengelolaan hasil panen, serta kebutuhan untuk mendukung pengembangan sektor perkebunan.

Selain melihat potensi pertanian, Bupati juga menyapa warga yang ditemui sepanjang rute perjalanan. Warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan aspirasi dan berbagai kebutuhan pembangunan di wilayahnya.

Syaharuddin Alrif menyampaikan, kunjungan langsung ke dusun menjadi langkah pemerintah untuk mengetahui kondisi masyarakat secara nyata sekaligus memastikan program pembangunan sesuai dengan kebutuhan warga.

Ia menilai, potensi kopi di Desa Tana Toro memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan petani dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Sidrap dalam memperkuat komunikasi dengan masyarakat, menjangkau wilayah pegunungan, serta menghadirkan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran. (adv)