AJATAPPARENG.ONLINE, SIDRAP — Sejumlah SPBU diduga masih masih melayani pembelian BBM dengan wadah jerigen berbahan plastik, kendati isu kelangkaan dan kenaikan harga BBM ‘menghantui’ masyarakat.
Pengisian jerigen di sela-sela pengisian BBM kendaraan masih terlihat di sejumlah SPBU. Petugas SPBU, masih melayani pembeli dengan jeriken berkapasitas 28 Liter, baik jenis pertalite maupun solar.
Ironisnya, kelangkaan BBM subsidi jenis Pertalite di Kabupaten Sidrap masih terjadi. kian memprihatinkan. Dalam beberapa hari terakhir, antrean panjang terlihat di sejumlah SPBU, sementara sebagian warga justru pulang dengan tangan kosong.
Situasi ini diperparah dengan munculnya dugaan penyalahgunaan barcode MyPertamina oleh oknum tertentu.
Sejumlah warga mengaku dirugikan karena jatah BBM mereka tiba-tiba habis, padahal belum melakukan pengisian.
Salah satu pengedara, KRN (33), menuturkan, dirinya harus mengantre hingga tiga jam. Namun saat tiba giliran, barcode miliknya dinyatakan sudah digunakan.
“Saya belum isi sama sekali, tapi dibilang sudah habis jatah. Ini jelas tidak masuk akal,” ujarnya dengan nada kecewa.
Setelah ditelusuri, muncul dugaan bahwa barcode milik warga telah digandakan dan digunakan pihak lain untuk membeli BBM subsidi.
Praktik ini diduga melibatkan oknum di SPBU yang memanfaatkan celah sistem. Di tengah kondisi langka, fenomena lain justru mencurigakan.
BBM subsidi yang sulit didapat di SPBU, justru dengan mudah ditemukan dijual di pinggir jalan dalam bentuk botolan, jeriken, hingga melalui pertamini ilegal.
Warga pun mulai geram. Mereka menilai ada permainan kotor dalam distribusi BBM subsidi yang merugikan masyarakat kecil.
“Ini bukan sekadar langka, tapi seperti ada yang sengaja memainkan. Di SPBU kosong, tapi di luar malah banyak dijual. Kami ini dipermainkan,” keluh warga lainnya.
Kritik tajam juga diarahkan pada lemahnya pengawasan. Baik pengawasan internal SPBU maupun dari pihak terkait dinilai belum maksimal dalam mencegah praktik penyimpangan.
“Kalau sistem barcode saja bisa dibobol, berarti ada yang tidak beres. Harus ada evaluasi total, jangan rakyat terus yang jadi korban,” tegasnya.
Masyarakat mendesak agar aparat penegak hukum dan pihak berwenang segera turun tangan mengusut dugaan ini. Selain itu, pengawasan distribusi BBM subsidi harus diperketat agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh oknum.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya kelangkaan yang berlanjut, tetapi juga potensi kerugian masyarakat yang semakin besar.
Di tengah kebutuhan tinggi, warga Sidrap kini berharap ada langkah nyata bukan sekadar janji.
Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sudah memastikan ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, di tengah dinamika situasi yang berkembang saat ini.
Sebagai langkah antisipatif, Pertamina telah melakukan penyaluran BBM ke sejumlah SPBU di atas rata-rata dari kebutuhan normal harian.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi, khususnya di wilayah yang mengalami peningkatan konsumsi dan antrean.
Meskipun pasokan telah ditingkatkan secara signifikan, Pertamina mencermati masih adanya antrean di beberapa SPBU.
Kondisi ini menjadi perhatian bersama dan dinilai tidak wajar, mengingat tambahan stok telah disalurkan di atas kebutuhan normal harian.
Oleh karena itu, diperlukan peran aktif seluruh pihak untuk mengidentifikasi dan mengurai faktor penyebab antrean, baik dari sisi pola konsumsi, distribusi di lapangan, maupun potensi penyimpangan.
Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta aparat penegak hukum (APH) guna memastikan distribusi BBM berjalan optimal, tepat sasaran, serta mencegah adanya penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Lilik Hardiyanto, menyampaikan bahwa Pertamina berkomitmen penuh menjaga keandalan pasokan energi bagi masyarakat.
“Kami memastikan bahwa stok BBM di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat dalam kondisi aman dan distribusi terus berjalan. Bahkan, kami telah menyalurkan BBM di atas rata-rata hingga 200% dari penyaluran normal harian untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan di lapangan,” ujar Lilik.
Ia menambahkan, kondisi antrean yang masih terjadi memerlukan perhatian dan kolaborasi seluruh stakeholder untuk dapat segera diurai secara komprehensif.
“Dengan tambahan pasokan yang sudah dilakukan, kondisi antrean yang masih terjadi tentu menjadi perhatian serius dan perlu dicermati bersama. Kami mengajak seluruh stakeholder, baik pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum, untuk bersama-sama mengawal distribusi energi agar tetap tepat sasaran. Di sisi lain, kami juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan panic buying, serta menggunakan BBM secara bijak sesuai kebutuhan,” tambahnya.
Pertamina juga menegaskan akan terus meningkatkan pengawasan di lapangan serta mengantisipasi adanya oknum yang mencoba memanfaatkan situasi saat ini.
Sebagai bentuk komitmen pelayanan kepada masyarakat, Pertamina membuka layanan pengaduan apabila terdapat keluhan terkait distribusi BBM maupun indikasi penyalahgunaan di lapangan.
Masyarakat dapat menghubungi Call Center Pertamina di nomor 135 untuk mendapatkan informasi, menyampaikan laporan, maupun pengaduan yang akan segera ditindaklanjuti.
Dengan sinergi seluruh pihak, diharapkan distribusi energi kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal, antrean dapat segera terurai, dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan baik. (*)











